Minggu, 23 Oktober 2016

Keanekaragaman Suku Bangsa

Keanekaragaman Suku Bangsa

                Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan kebudayaan. Suku bangsa di Indonesia tercatat ada 1.128 suku bangsa. Berikut beberapa suku yang ada di Indonesiaa.       
a. Suku Batak
Keragaman suku Batak
Suku batak terdapat di Sumatra Utara dan Kepulauan Riau. Ada beberapa subsuku batak seperti Batak Angkola,Batak Karo,Batak Mandailling,Batak Pakpak,Batak Sialungun dan Batak Toba. Masyarakat suku batak mayoritas beragama kristen dan sisanya beragama Islam, tetapi masih dijumpai pula kepercayaan lokal seperti Sipelebegu atau Parbegu. Ciri khas orang batak adalah marga yang menjadi identitas bagi masyarakatnya, biasanya marga diberikan sesuai dengan dengan marga ayah. Beberapa contoh marga suku batak, yaitu Tampubolon,Tabunan,Hutabarat,Nababan,Nasution,Panggabean,Sihombing,Simanjuntak,Siregar,Sitorus,dan Pohan. Masyarakat batak terkenal dengan dengan hubungan kekerabatan yang kuat dan saling bahu-membahu membantu ketika ada anggota marga dalam kesusahan. Mata pencarian orang batak adalah bercocok diladang dan sawah selain itu mereka juga bertenak sapi,kerbau,babi,aya,kambing. Tarian yang terkenal dari suku batak adalah Tor-Tor. Nama Tor-Tor berasal dari suara hentakan kaki penarinya di atas papan rumah adat batak, peanri bergerak dengan iringan alat musik Gondang. Ada tiga ritual dalam tari Tor-Tor pertama, yaitu tarian persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dilandasi oleh perasaan takut dan taat kepada-Nya. Kedua, pesan ritual kepada leluhur, orang yang dihiormati dan masih hidup. Ketiga, pesan untuk masyarakat ysng hadir dalam acara.
b.  Suku Jawa
Suku Jawa zaman dahulu
Suku Jawa merupakan suku yang mendiami Pulau Jawa dan sekarang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dengan persentase lebih dari 45% dari jumlah penduduk indonesia. Mayoritas masyarakatnya beragama islam. Suku Jawa terkenal dengan dengan bahasa yang memiliki tingkatan seperti Ngoko (Kasar) biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau orang terhormat,Madya (Biasa) biasanya digunakan ketika bertemu dengan orang yang belum kenal. Madya terdiri atas Madya Ngoko dan Madya Krama, Madya Ngoko digunakan untuk berbicara sehari-hari dengan sebaya atau lebih muda. Kebudayaan suku Jawa beragam, misalnya  seni membatik. Batik telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO (United Nation Education Scientific and Cultural Organization) bersama dengan angklung,tari Saman,dan wayang kulit. Pada awalnya motif batik didominasi bentuk binatang dan tanaman. Selanjutnya, motif batik mengalami perkembangan menjadi motif abstrak yang menyerupai awan,relief candi,dan wayang.
c. Suku Bali (Aga dan Majapahit)
Keragaman budaya Bali
Bali terkenal dengan keindahan alam dan kemajuan dalam bidang pariwisata yang dipadu dengan budaya lokal. Masyarakat Bali dikenal memegang teguh adat dalam kehidupan sehari-hari dan tanpa sadar menjadi daya tarik bagi wisatawan. Masyarakat  Bali terdiri dari dua subsuku yaitu Bali Aga dan Bali Majapahit. Bali Aga menempati wilayah pegunungan,sementara Bali Majapahit menempati dataran rendah. Agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat bali adalah agama Hindu-Dharma (95%) dan agama lainnya (5%). Masyarakat bali menyembah leluhur yang disebut dengan Hyang. Mata pencarian masyarakat bali adalah bercocok  tanam, terbukti dari sistem pengairan subak yang masih ada sampai sekarang. Sering dengan majunya sektor pariwisata, masyarakat bali mulai memiliki beragam profesi seperti guide, membuka usaha perhotelan,travel,dan toko kerajinan tangan. Penduduk Bali Aga disebut Wong Bali Mula,yaitu orang Bali asli. Orang Bali Aga bertemapt tinggal di pegunungan. Pada saat sekarang penduduk di Danau Batur,Desa Trunyan dikenal sebagai masyarakat Bali Aga. Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal dan masih mempraktiskan sistem sosial yang disebut wangsa (kasta) yang terdiri dari kasta utama,madya dan nista. Kasta utama ditempati oleh brahmana, kasta madya ditemapati golongan kesatria,dan kasta nista golongan waisya. Masyarakat Bali Majapahit mengenal sistem pengairan(Subak) dan berbagai perayaan keagamaan/upacara keagamaan yang menarik dan unik seperti Ngaben. Upacara Ngaben bertujuan untuk mengembaikan roh orang yang sudah meninggal asalnya.
c.  Suku Dayak
Budaya suku Dayak
Masyarkat suku Dayak mendiami Pulau Kalimantan dengan enam subsuku besar, yaitu Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju,Iban,Klematan, dan Punan. Agama asli masyarakat Dayak adalah percampuran dari agama Hindu,Budha,dan Islam. Oleh masyarakat sendiri agama campuran tersebut dinamakan agama helu yang sekarang disebut Kaharingan. Dewa-dewa tertinggi dalam agama Kaharingan disebut Pohantara yang berasal dari agama Budha dan Sagiyang /Sanghyang yang merupakan istilah dari agama Hindu, sementara Mahatalla berasal dari kata Maha , artinya paling dan talla dari Allah ta’ala artinya Allah Maha Tinggi. Mata pencarian maasyarakat Dayak adalah berladang,bertani,dan berburu. Masyarakat Dayak meninggalkan kampung halaman memiliki profesi bermacam-macam seperti pegawai,karyawan ,dan profesi lainnya. Filosofi Dayak yang sangat terkenal terkandung dalam salam Dayak. Salam Dayak tersebut berbunyi “Adil  Ka’ Talino Ba Curamin Ka’ Saruga Ba Sengat Ka’ Jubata”. Makna dari filosofi tersebut adalah : Adil Ka’ Talino (Kata yang memiliki makna bahwa manusia Dayak itu harus hidup adil kepada sesama manusia), Ba Curamin Ka’ Saruga (digunakan masyarakat Dayak sebagai rujukan kesempurnaan hidup manusia), Ba Sengat Ka’ Jubata (hidup masyarakat Dayak yang berasal atas Yang Ilahi atau Jubata, mereka meyakini Jubata memberikan kehidupan dan kelimpahan bagi masyarakat Dayak). Masyarakat Dayak terkenal dengan tradisi telinga panjang meskipun hanya beberapa seperti Kalimantan Barat, masyarakat yang memanjangkan telinganya menggunakan pemberat adalah keturunan bangsawan. Tujuan tradisi adalah membedakan perempuan bangsawan dengan budak. Tradisi memanjangkan telinga dengan pemberat logam ada pula tradisi Lom Plai,  yaitu tradisi pesta panen dengan serangkaian ritual yang diakhiri dengan tarian Hudoq. Tarian Hudoq digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka telah meninggal
d.  Suku Toraja
kebudayaan suku Toraja
Suku Toraja berada di Sulawesi Selatan. Menurut DR. C. Cyrut, masyarakat Toraja merupakan hasil asimilasi antatra penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dan pendatang Teluk Tonkin (daratan Cina). Menurut kepercayaan lokal, suku Toraja berasal dari kayangan yang turun di Pulau Lebukan. Kepercayaan asli suku Toraja adalah Alukta yang ditetapkan sebagai salah satu sekte agama Hindu-Dharma. Mata pencarian masyarakat Toraja adalah bercocok tanam,memelihara binatang ternak seperti ayam,itik,babi,kerbau,ikan mas,dan membuat kerajinan tangan. Masyarakat Toraja menganggap rumah Tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak.
e. Suku Asmat
Keragaman suku Asmat
Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua. Hasil kebudayaan yang unik dari suku Asmat selain ukiran yang indah adalah rumah Bujang (Jew), yaitu tempat pusat kegiatan suku Asmat dilakukan, baik dalam melakukan pekerjaan maupun musyawarahuntuk keperluan adat. Bagi mereka batang pohon menggambarkan tanngan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka. Ukiran yang buat oleh merreka dianggap sebagai penghubung anatara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. Masyarakat suku Asmat memiliki tiga konsep tentang dunia, Pertama, amat ow capinmi yaitu alam kehidupan sekarang, Kedua, dampu ow capinmi yaitu alam persinggahan roh yang sudah meninggal,Ketiga, safar yaitu surga
Share:

0 komentar:

Posting Komentar