Keanekaragaman Suku Bangsa
Indonesia
merupakan bangsa yang kaya akan kebudayaan. Suku bangsa di Indonesia tercatat
ada 1.128 suku bangsa. Berikut beberapa suku yang ada di Indonesia a.
a. Suku Batak
![]() |
| Keragaman suku Batak |
b. Suku Jawa
Suku Jawa merupakan suku yang
mendiami Pulau Jawa dan sekarang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dengan
persentase lebih dari 45% dari jumlah penduduk indonesia. Mayoritas
masyarakatnya beragama islam. Suku Jawa terkenal dengan dengan bahasa yang
memiliki tingkatan seperti Ngoko
(Kasar) biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau orang
terhormat,Madya (Biasa) biasanya
digunakan ketika bertemu dengan orang yang belum kenal. Madya terdiri atas Madya
Ngoko dan Madya Krama, Madya
Ngoko digunakan untuk berbicara sehari-hari dengan sebaya atau lebih muda.
Kebudayaan suku Jawa beragam, misalnya
seni membatik. Batik telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO
(United Nation Education Scientific and Cultural Organization) bersama dengan
angklung,tari Saman,dan wayang kulit. Pada awalnya motif batik didominasi
bentuk binatang dan tanaman. Selanjutnya, motif batik mengalami perkembangan
menjadi motif abstrak yang menyerupai awan,relief candi,dan wayang.
Bali terkenal dengan keindahan alam
dan kemajuan dalam bidang pariwisata yang dipadu dengan budaya lokal.
Masyarakat Bali dikenal memegang teguh adat dalam kehidupan sehari-hari dan tanpa
sadar menjadi daya tarik bagi wisatawan. Masyarakat Bali terdiri dari dua subsuku yaitu Bali Aga
dan Bali Majapahit. Bali Aga menempati wilayah pegunungan,sementara Bali
Majapahit menempati dataran rendah. Agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat
bali adalah agama Hindu-Dharma (95%) dan agama lainnya (5%). Masyarakat bali
menyembah leluhur yang disebut dengan Hyang. Mata pencarian masyarakat bali
adalah bercocok tanam, terbukti dari
sistem pengairan subak yang masih ada
sampai sekarang. Sering dengan majunya sektor pariwisata, masyarakat bali mulai
memiliki beragam profesi seperti guide,
membuka usaha perhotelan,travel,dan toko kerajinan tangan. Penduduk Bali Aga
disebut Wong Bali Mula,yaitu orang
Bali asli. Orang Bali Aga bertemapt tinggal di pegunungan. Pada saat sekarang
penduduk di Danau Batur,Desa Trunyan dikenal sebagai masyarakat Bali Aga.
Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal dan masih mempraktiskan
sistem sosial yang disebut wangsa
(kasta) yang terdiri dari kasta utama,madya dan nista. Kasta utama ditempati
oleh brahmana, kasta madya ditemapati golongan kesatria,dan kasta nista
golongan waisya. Masyarakat Bali Majapahit mengenal sistem pengairan(Subak) dan
berbagai perayaan keagamaan/upacara keagamaan yang menarik dan unik seperti Ngaben. Upacara Ngaben bertujuan untuk
mengembaikan roh orang yang sudah meninggal asalnya.
c. Suku
Dayak
![]() |
| Budaya suku Dayak |
Masyarkat suku Dayak mendiami Pulau
Kalimantan dengan enam subsuku besar, yaitu Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot
Danum-Ngaju,Iban,Klematan, dan Punan. Agama asli masyarakat Dayak adalah
percampuran dari agama Hindu,Budha,dan Islam. Oleh masyarakat sendiri agama
campuran tersebut dinamakan agama helu
yang sekarang disebut Kaharingan. Dewa-dewa tertinggi
dalam agama Kaharingan disebut Pohantara yang berasal dari agama
Budha dan Sagiyang /Sanghyang yang merupakan istilah dari agama Hindu,
sementara Mahatalla berasal dari kata Maha , artinya paling dan talla dari
Allah ta’ala artinya Allah Maha Tinggi. Mata pencarian maasyarakat Dayak adalah
berladang,bertani,dan berburu. Masyarakat Dayak meninggalkan kampung halaman
memiliki profesi bermacam-macam seperti pegawai,karyawan ,dan profesi lainnya.
Filosofi Dayak yang sangat terkenal terkandung dalam salam Dayak. Salam Dayak
tersebut berbunyi “Adil Ka’ Talino Ba
Curamin Ka’ Saruga Ba Sengat Ka’ Jubata”. Makna dari filosofi tersebut adalah :
Adil Ka’ Talino (Kata yang memiliki makna bahwa manusia Dayak itu harus hidup
adil kepada sesama manusia), Ba Curamin Ka’ Saruga (digunakan masyarakat Dayak
sebagai rujukan kesempurnaan hidup manusia), Ba Sengat Ka’ Jubata (hidup
masyarakat Dayak yang berasal atas Yang Ilahi atau Jubata, mereka meyakini
Jubata memberikan kehidupan dan kelimpahan bagi masyarakat Dayak). Masyarakat
Dayak terkenal dengan tradisi telinga panjang meskipun hanya beberapa seperti
Kalimantan Barat, masyarakat yang memanjangkan telinganya menggunakan pemberat
adalah keturunan bangsawan. Tujuan tradisi adalah membedakan perempuan
bangsawan dengan budak. Tradisi memanjangkan telinga dengan pemberat logam ada
pula tradisi Lom Plai, yaitu tradisi
pesta panen dengan serangkaian ritual yang diakhiri dengan tarian Hudoq. Tarian
Hudoq digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka telah meninggal
d. Suku
Toraja
![]() |
| kebudayaan suku Toraja |
e. Suku
Asmat
![]() |
| Keragaman suku Asmat |






0 komentar:
Posting Komentar